Laman

Rabu, 05 Desember 2012

AROMA ABADI DARI BACIRO-NGAYOGYAKARTO HADININGRAT/SEPENGGAL KISAH TENTANG NEGRESCO

 

Gerbang Taru Martani
Pict.source: http://www.skyscrapercity.com/



Aroma Abadi Dari Baciro-Ngayogyakarta Hadiningrat
Sepenggal Kisah Tentang Negresco

Special Thanks To:
Hans van Melis
 http://sigarenfabrieken.nl-for his valuable contribution

 
Pada waktu dulu tahun medio-70an kawasan Baciro-Jogja tak sepadat sekarang, jalanan kadang lebih terlihat lengang karena pada waktu itu kawasan Baciro masih tergolong pinggir kota Jogja bagian Timur. Baciro sendiri berjarak kurang lebih 4 km dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.
pict.source: cigar van java-Tarumartani 1918-Front Cover Company Profile book.
Sering kali jika diajak "becak-becakan" oleh Eyang saya pada waktu itu menyusuri jalan raya Baciro maupun sering juga melewati kawasan dalam jalan Baciro.  Di sepanjang Jalan Raya Baciro maupun di area dalam seperti jalan Pengok kidul sering Aroma tembakau yang sangat harum tercium. Meski merambat pelan aroma tersebut makin kuat dan bersumber pada sebuah bangunan besar dengan tampak depan gedung dengan arsitektur art deco dan hampir terlihat tidak ada aktivitas jika dilihat dari depan Jalan Raya Baciro  Perusahaan Daerah (PD) Tarumartani Baru waktu itu banyak dikenal, yang tiap harinya menjadikan tembakau menjadi lintingan-lintingan cerutu. Aroma semerbak tersebut tiap hari kita nikmati, dan hampir menjadikan aromanya seperti napas kehidupan Baciro. Lokasi Taru Martani sendiri adalah di tepi jalan Komisaris Bambang Suprapto (d/h Melati Kulon/Jalan Raya Baciro sebelah barat) dan disisi baratnya adalah Jalan Pengok Kidul di Kecamatan Gondokusuman. Area Pabrik Taru Martani juga tidak jauh dari stasiun kereta api Lempuyangan)

pict.source: cigar van java-Tarumartani 1918 Company Profile book.
Praja Cihna, Lambang Kasultanan Yogyakarta (wikipedia)


Sepenggal Kisah Tarumartani

Sri Sultan HB IX
(1940-1988)
Tarumartani nama yang diberikan oleh Sri Sultan Hangku Buwono IX pada waktu itu dengan makna serta harapan menjadikan penghidupan yang bersumberkan dari daun tembakau. Sejarah Tarumartani yang panjang , silih berganti kepemilikan dan pasang surut usahanya, menjadikannya semakin bernilai menurut pemahaman saya.

Sri Sultan Hamengkubuwono VIII
(1921-1939)
COLLECTIE TROPENMUSEUM 
Studio portret van Hamengkoe Boewono VIII Sultan van Jogjakarta 
 http://commons.wikimedia.org
Tarumartani awalnya didirikan oleh sebuah perusahaan cerutu Nederland, Mignot & de Block yang berpusat di Eindoven. Mignot & de Block didirikan pada tahun 1858 oleh John Adolphus Mignot, dari Charleston dengan saudaranya Anthony Martin Alexander blok. Tarumartani sendiri didirikan pada Juli 1919, dengan nama Negresco NV. yang awal pendiriannya adalah bertempat di daerah Bulu, yang meurut perkiraan saya ini adalah daerah antara Temanggung-Parakan, Jawa Tengah. Tahun 1923 Negresco merelokasi pabriknya ke kawasan Baciro. Pada awal pendiriannya Negresco hanya punya 25 pegawai namun pada tahun 1923, Negresco telah mempekerjakan 400 orang pegawai.

Sejarah pendirian pabrik cerutu di Jawa awalnya adalah merupakan langkah ekspansi produksi Mignot & de Block, Perusahaan cerutu terkemuka dari Eindoven-Nederland, diluar negaranya, dengan maksud mencari lokasi pabrik yang dekat dengan material tembakau maupun tenaga kerja yang lebih murah maka biaya produksi dapat diminimalisir sehingga daya saing dan daya jual dari cerutu Negresco semakin tinggi. Disamping itu pemilihan lokasi paberik di Jawa juga karena permintaan dukungan dari pihak Gereja katolik dalam misionaris di Jawa. Keluarga Mignot yang juga pemeluk Katolik yang taat serta hubungan yang erat dengan pihak Gereja Katolik sehingga ketika pihak Gereja meminta dukungan maka Mignot menanggapinya dengan mendirikan pabrik Negresco di Yogyakarta.






John Adolphus Mignot pic. source: wikipedia
Sejarah Mignot & Deblock sendiri dimulai tahun 1858. Mignot & de Block pada masa awal tahun pendiriannya mengalami masa-mas yang cukup sulit, tetapi berkat kegigihan John Adolphus Mignot dan  Anthony Martin Alexander blok dimana sejak tahun 1865 datang perubahan yang lebih baik ditandai pada 1867 mereka menerima medali perunggu di Pameran Dunia tembakau dan cerutu di Paris

Tahun 1873, Mignot & de Block banyak melakukan ekspansi besar dengan menaikkan kapasitas produksinya khususnya untuk cerutu merek Regal dan Senator. Pada 1911 perusahaan memperkenalkan  Crescent Cie di industri rokok dengan merek-mereknya Kings Cross, Hunter, dan Caravellis. 
Sampai tahun 60-an Mignot & de Block memimpin pasar cerutu di Belanda dengan mereknya Regal dan Senator.
Pada tahun 1969 , pembuatan cerutu dan rokok Mignot & Blok De diakuisisi oleh Philip Morris . Produksi cerutu dilanjutkan oleh Court Jester . Pada 1982 Philip Morris Grup pindah produksi rokok dari Eindhoven ke Bergen op Zoom . Kemudian kompleks pabrik dibongkar. Situs bekas pabrik sekarang disebut Mignot dan Blockplein. Kembali kisah di Tanah Jawa dimana pada tahun 1930, Negresco, NV. melakukan ekspansi dengan menambah pekerja menjadi 1.000 orang yang sebagian besar untuk membuat cerutu buatan tangan. 
pic source: dereigers.net

Pada Tahun 1942, sejak pendudukan Jepang di Jawa, juga berdampak pada Negresco dan menimbulkan perubahan besar. Nama Negresco dirubah menjadi Jawa Tobacco Kojo. Untuk memenuhi kebutuhan tentara pendudukan Jepang maka Jawa Tobacco Kojo juga diberi mesin yang dirampas dari British American Tobaco di Cirebon. Bermodalkan mesin hasil sitaan ini, dan melibatkan 2000 pekerja, pabrik ini membuat cerutu Momo Taro dan dua merek sigaret yakni Mizuo dan Koa. Kesemua ini untuk konsumsi Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang.

Setelah Perang Dunia II usai, Sultan HB IX mengambil peranan dengan mengambil alih Pabrik cerutu Jawa Tobacco Kojo dan mengganti namanya menjadi Tarumartani. Class II sekitar tahun 1949, pasukan Belanda kembali menginvasi yang pada saat itu Yogyakarta telah menjadi bagian dari Republik indonesia, dan Tarumartani kembali jatuh ke tangan Negresco sebagai pemilik lamanya. 

Antara 1950-1951 era kevakuman Tarumartani-Negresco, dimana kemelut politik berlangsung, British American Tobacco kembali mengambil mesin-mesin yang pernah dirampas dan mengakibatkan terhentinya operasional Tarumartani-Negresco.

1952, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bank Indonesia membeli perusahaan ini dan namanya kembali menjadi PT Taru Martani. Ada tiga merek cerutu yang diproduksi, yakni Mundi Victor, Senator dan Elomercio. Sementara untuk kertas sigaret adalah Chaveaux Blancs. 1957, Tarumartani menambah lagi produknya berupa tembakau shag dan dua merek rokok kretek, yakni Roro Mendut dan Roro Jonggrang.

Nama PT Taru Martani kembali berubah menjadi Perusahaan Negara Perindustrian Rakyat Budjana Jasa. Ini terjadi ketika pemerintah menetapkan policy untuk merasionalisasi semua perusahaan Belanda. Dan ketika ada pergantian rezim Soekarno ke rezim Soeharto, perusahaan ini mengalami kembang kempis dan hanya bisa mempekerjakan sekitar 100 orang.

Tahun 1972, HB IX -kala itu menjabat wakil presiden -kembali mengambil peranan. Tarumartani kembali menjadi milik pemerintah DIY. Nama pun berubah lagi menjadi PT Taru Martani Baru. ”Kala itu Sri Sultan berpendapat cerutu ekspor haruslah menjadi usaha utama dari perusahaan ini, sebab akan lebih banyak menyerap tenaga kerja daripada jika membuat jenis produk tembakau lainnya,”. Tak lama kemudian, masuklah perusahaan tembakau Belanda, Douwe Egberts dengan menyertakan modal, tenaga ahli serta akses ke pasaran ekspor.

Selain meneruskan pembuatan Mundi Victor dan Senator, juga menambah lagi tiga merek, yakni Adipati, Ramayana dan Panter. Tahun 1973–1978, Tarumartani mulai memproduksi kertas sigaret Chaveaux Blancs dan Countryman. Pada rentang antara tahun tersebut Tarumartani juga memperkenalkan empat merek tembakau, yakni Van Nelle, Countryman, White Ox dan Prahu. 


pic. source: http://www.sigarenfabrieken.nl/
Sampai sekarang Tarumartani masih menunjukkan nafas kehidupannya meski tak seperkasa dahulu Tarumartani tetap exist, terus berbenah diri dan yang paling penting buat saya tetap menimbulkan aroma yang memikat semerbak menjadikan nafas Baciro seharum daun yang menghidupi.


(Reference: www.sigarenfabrieken.nl, wikipedia, Cigar van Java-Tarumartani 1918 Company Profile, koleksirokok.blogspot.com-Sinar Harapan 2002 )


 PABRIK CERUTU NEGRESCO DJOKJAKARTA
DI MASA ITU

Peta area Yogyakarta 1945
pic. source: http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta
Peta area Yogyakarta 1930
pic.source: http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta
Doc. source: http://www.sigarenfabrieken.nl/


pic. source: http://www.sigarenfabrieken.nl

pict. source: www.eindhovenfotos.nl 
Ratu Juliana-pic.source: www.geschiedenis24.nl

pic source: http://www.sigarenfabrieken.nl/


 
Karyawan Pabrik Negresco-Jogja-pic source: www.sigarenfabrieken.nl
 




PARA PENDIRI NEGRESCO


Adolph Antoin Louis Marie Mignot
 (salah satu pendiri Negresco-Foto diambil pada saat mengunjungi Negresco Jogja)


 Louis Marie Mignot





Adolph Antoin Louis Marie Mignot




IKLAN NEGRESCO TAHUN 1924

CIGARETTE CARD







Label Cerutu Negresco

 


Suasana Pabrik Negresco di Kala Itu










Tidak ada komentar:

Posting Komentar